Dewasa ini, kita
sering melihat perbedaan yang terjadi di antara kita,
sebagai seorang muslim yang menghargai perbedaan, kita harus
terapkan kebenaran. Oleh karena itu, apabila kita mendengar tuduhan maupun
anggapan orang bahwa dalam lembaga atau tim terdapat inkonsistensi status
sebuah perkara, yang nantinya akan menimbulkan negative thinking bahwa atasan atau anggota tidak konsisten, maka kita sebagai kaum
terpelajar tidak usah menanggapi dengan emosi, akan tetapi kita harus
menyikapinya dengan wajar dan kepala dingin. Karena aggapan semacam itu
dimungkinkan keluar dari mulut-mulut orang yang memang tidak paham bahkan tidak
mengetahui seluk beluk hukum sebenarnya. Dari itu, untuk menghindari
anggapan-anggapan miring seperti di atas kita coba bangun dan kaji meneliti
dalil-dalil yang secara tekstual kebenaran.
Secara
etimologis layaknya ta’arudl dalam pertentangan antara dua hal dan tidak
mengerti kalau sebenarnya dusta pada hukum dan kelompok , yang paling lurus
adalah jangan kita jual kemahalan harga diri kita dengan omong kosong dan
akibatnya suatu saat menjatuhkan dan mengkikis kedudukan mulya kita dan menjadi
tak terhormat di mata public. Kebiasaan yang
seharusnya menjadi performance di antara
kita adalah terapkan konsep saling percaya antar tim atau kelompok lebih-lebih
pada individu.
Dalam kedustaan yang sengaja terancang
adalalah ambisi besar, identiknya yang
paling lumrah di dalam Negara kita adalah metode usulan yang buruk dan metode
aduan yang tak normal layaknya anak kecil, gini-gini
ngadu pada atasan layaknya tidak punya otak, kalau sebenarnya kemulyaan
pribadinya akan terkikis oleh waktu.
Pengalaman saya adalah mengungkap kebenaran
yang tidak ada habisnya, sehingga dengan
beberapa pemikiran dan rancangan apapun tidak ada titik temunya, saya
mencoba berfikir bagaimana persoalan itu bisa selesai, setelah saya tela’ah
dalam wacana ini, ada sedikit penyimpangan yang habitatnya terkumpul dalam
dunia dusta (pecundang, bohong,). Nah… untuk itu salah satu program saya yang
tentunya untuk menjadi motivator etimologis kebangsaan, maka saya mencoba tanamkan
skenario kejujuran dalam hidup, orang pendusta itu akan kelihatan kelihaiannya,
dan ia biasanya tidak berani tanpakkan batang
hidungnya melainkan hanya mencari muka di depan atasan.
Untuk
itu,
agar hidup ini lebih indah kita coba tanamkan konsep lurus yaitu dengan rujukan,
“jangan ada dusta di antara
kita”.
O L E H : Murtade - Koordinator
Pasar Paiton
0 Comments:
Posting Komentar