Penayangan

Written By tarjianto on Selasa, 12 Mei 2015 | 07.39





Dewasa ini, kita sering melihat perbedaan yang terjadi di antara kita, sebagai seorang muslim yang menghargai perbedaan, kita harus terapkan kebenaran. Oleh karena itu, apabila kita mendengar tuduhan maupun anggapan orang bahwa dalam lembaga atau tim terdapat inkonsistensi status sebuah perkara, yang nantinya akan menimbulkan negative thinking bahwa atasan atau anggota  tidak konsisten, maka kita sebagai kaum terpelajar tidak usah menanggapi dengan emosi, akan tetapi kita harus menyikapinya dengan wajar dan kepala dingin. Karena aggapan semacam itu dimungkinkan keluar dari mulut-mulut orang yang memang tidak paham bahkan tidak mengetahui seluk beluk hukum sebenarnya. Dari itu, untuk menghindari anggapan-anggapan miring seperti di atas kita coba bangun dan kaji meneliti dalil-dalil yang secara tekstual kebenaran.
Secara etimologis layaknya ta’arudl dalam pertentangan antara dua hal dan tidak mengerti kalau sebenarnya dusta pada hukum dan kelompok , yang paling lurus adalah jangan kita jual kemahalan harga diri kita dengan omong kosong dan akibatnya suatu saat menjatuhkan dan mengkikis kedudukan mulya kita dan menjadi tak terhormat di mata public. Kebiasaan yang seharusnya menjadi performance di antara kita adalah terapkan konsep saling percaya antar tim atau kelompok lebih-lebih pada individu. Dalam kedustaan yang sengaja terancang adalalah  ambisi besar, identiknya yang paling lumrah di dalam Negara kita adalah metode usulan yang buruk dan metode aduan yang tak normal layaknya anak kecil, gini-gini ngadu pada atasan layaknya tidak punya otak, kalau sebenarnya kemulyaan pribadinya akan terkikis oleh waktu.
  Pengalaman saya adalah mengungkap kebenaran yang tidak ada habisnya, sehingga dengan  beberapa pemikiran dan rancangan apapun tidak ada titik temunya, saya mencoba berfikir bagaimana persoalan itu bisa selesai, setelah saya tela’ah dalam wacana ini, ada sedikit penyimpangan yang habitatnya terkumpul dalam dunia dusta (pecundang, bohong,). Nah… untuk itu salah satu program saya yang tentunya untuk menjadi motivator etimologis kebangsaan, maka saya mencoba tanamkan skenario kejujuran dalam hidup, orang pendusta itu akan kelihatan kelihaiannya, dan ia biasanya tidak berani tanpakkan batang hidungnya melainkan hanya mencari muka di depan atasan. Untuk itu, agar hidup ini lebih indah kita coba tanamkan konsep lurus yaitu dengan rujukan,  jangan ada dusta di antara kita”.

O L E H : Murtade - Koordinator Pasar Paiton

0 Comments:

Posting Komentar